Tips Berhutang Agar Tidak Bangkrut

Banyak dari Kita yang takut mendengar kata hutang atau takut berhutang dan juga mungkin ada sebagian dari Kita yang malah hobi untuk berhutang dan termasuk dalam istilah “Gali Lobang Tutup Lobang”

Sebenarnya apa sich definisi dari hutang ? hutang adalah sejumlah uang atau sesuatu yang dapat dinilai dengan uang yang diterima dari pihak lain berdasarkan persetujuan dan kewajiban mengembalikan atau melunasi.

Karena adanya kewajiban untuk mengembalikan atau melunasi, muncul suatu pertanyaan yang harus dijawab, sampai seberapa banyak Kita harus berhutang agar tidak membuat kita bangkrut?

Sebelum masuk ke perhitungan rasio hutang dibandingkan harta dan rasio hutang dengan penghasilan, Kita harus mengenal dua jenis hutang yaitu : hutang produktif dan hutang konsumtif.

1. Hutang Produktif

Segala jenis hutang yang mempunyai ciri khas : nilai aset yang dibeli dengan cara berhutang akan meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Aset yang dibeli dengan cara berhutang dapat memberikan atau menghasilkan penghasilan yang sama atau lebih besar dari biaya cicilan hutang (pokok dan bunga). Contoh hutang produktif : KPR, KPA, Kredit pemilikan ruang usaha, kredit untuk usaha, dll.

2. Hutang Konsumtif

Segala jenis hutang yang mempunyai ciri khas : nilai aset yang dibeli dengan cara berhutang akan turun sejalan dengan waktu.

Aset yang dibeli dengan cara berhutang tidak dapat memberikan atau menghasilkan penghasilan yang sama atau lebih besar dari biaya cicilan hutang (pokok dan bunga), tidak memerlukan jaminan (kolateral), biasanya dikenakan suku bunga yang tinggi. Contoh hutang konsumtif : kartu kredit.

Manajemen hutang – Aturan dalam berhutang

Dalam berhutang ada beberapa aturan yang harus diperhatikan supaya kita terhindar dari kebangkrutan, aturan tersebut adalah :

1. Perhatikan rasio hutang dengan penghasilan

Total hutang Anda tidak boleh lebih dari 35% dari penghasilan utama keluarga (suami atau istri), bukan penghasilan gabungan. Pada saat Anda memiliki rasio 45% maka Anda masuk ke dalam kategori berbahaya (kemungkinan bangkrut).

Contoh kasus : Suami memiliki penghasilan perbulan Rp 10 juta dan Istri Rp 5 juta. Maka jumlah hutang yang boleh diambil adalah :

10 juta x 35% = 3,5 juta

Mengapa penghasilan tidak digabung (Suami dan Istri)? karena ini merupakan bentuk dari Manajemen Resiko, tujuannya untuk menjaga jika salah satu penghasilan berhenti.

2. Perhatikan rasio total hutang terhadap total aset

Jika jumlah hutang melebihi aset, niscaya ada kesulitan dalam pembayaran tagihan. Hal ini pada akhirnya bisa mengakibatkan kebangkrutan. Rasio hutang dengan mudah dikalkulasikan hanya dengan membagi total hutang dengan total aset.

Contoh kasus : Katakanlah total hutang 30 juta dan total aset 50 juta, maka rasionya adalah :

DER = hutang/Aset = 30 juta/50 juta = 0,6

Rasio ini berarti bahwa terdapat 600 ribu total hutang dalam setiap satu juta total aset. Semakin rendah rasio semakin baik karena akan lebih baik jika Anda tidak terlalu banyak memiliki hutang terutama hutang nonproduktif. Jumlah hutang yang lebih sedikit juga akan lebih baik terutama bila aset yang dimiliki memiliki nilai pasar yang sangat berfluktuasi.

3. Perhatikan rasio penghasilan bersih terhadap pembayaran hutang

Rasio untuk mengukur kemampuan dalam mengendalikan hutang tidak hanya tergantung pada banyaknya asset, tetapi juga pada penghasilan bersih.

Contoh kasus : Penghasilan bersih sebesar Rp 40 juta dan pembayaran hutang (pokok dan bunga) Rp 10 juta maka rasionya adalah :

Penghasilan bersih/pembayaran hutang = Rp 40 juta/Rp 10 juta = 4

Ada Rp 4 juta penghasilan bersih bulanan untuk setiap Rp 1 juta kebutuhan pembayaran hutang (pokok dan bunga). Rasio yang tinggi menunjukan kekuatan membayar hutang yang lebih baik. Secara umum rasio minimal harus 2.

Jadi sebelum ada berhutang, perhatikanlah kembali 3 rasio tersebut diatas agar anda terhindar dari kebangkrutan.

Semoga bermanfaat.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *