Filosofi Truk

Kemarin kondisi jalan tol cukup penuh ya, kebetulan saya baru saja pulang dari Cirebon menuju Jakarta. Tetapi di tengah jalan ramai seperti itu, justru jadi hiburan tersendiri buat anak-anak saya, terutama Ali si bungsu. Sebab kesempatan untuknya setiap kali melihat truk yang lewat, dia menghitung jumlah ban yang digunakan truk tersebut. Maklumlah Ali baru bisa berhitung.

Ternyata setiap truk dilengkapi ban yang berbeda-beda jumlahnya loh. Mulai dari truk berukuran normal, dengan empat pasang ban, sampai truk super besar yang memiliki dua belas pasang ban.

Ban sebanyak itu tentu saja menjadi suatu kebutuhan bagi truk yang harus menempuh perjalanan membawa beban yang beratnya sampai berton-ton.

Filosofi truk ini sungguh tidak jauh berbeda dengan hidup kita di dunia. Sepanjang perjalanan hidup, kebutuhan kita senantiasa bertambah kan? Dulu saat kita hidup sendiri, tentu berbeda kebutuhannya dengan sekarang setelah menikah.

Kemudian setelah dikaruniai anak, kebutuhan kita akan berbeda lagi dibanding saat baru menikah. Apalagi saat anak bertambah besar, satu demi satu kebutuhan kita menjadi lebih banyak.

Sesuai dengan filosofi truk itulah memang sudah selayaknya kita menambah ketakwaan kita kepada Allah. Salah satunya dengan memperbaiki ibadah-ibadah kita.

Jika dulu shalat kita begitu terburu-buru, maka memang sudah selayaknya hari ini kita belajar untuk shalat lebih tenang dan lebih khusyu.

Jika dulu Dhuha kita baru empat rakaat, maka mulailah berusaha memasangnya menjadi delapan rakaat, agar ban yang terpasang ini bisa dengan seimbang membawa beban truk kehidupan kita yang kian hari kian bertambah.

Jangan pernah berhenti menjadi muslim yang lebih baik setiap harinya, sampai perjalanan hidup kita ini sampai ke tujuan.

Sumber : telegram @arafat_channel

Jika tulisan ini bermanfaat silahkan share ke temannya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *